Rumah tangga itu bisa berjalan normal dan lancar apabila ada kesepakatan antara suami istri di segala hal. Misalnya saja nih ada kesepakatan bahwa istri di rumah saja mengasuh anak-anak sementara suami yang bekerja. Atau di sisi lain ada kesepakatan bahwa istri turut bekerja demi membantu perekonomian keluarga, sementara suami ikut membantu pekerjaan rumah tangga.
Semua kesepakatan antara suami istri setidaknya harus ada agar kehidupan rumah tangga berjalan adem ayem tanpa konflik sedikitpun.Yah kalau salah paham dan berantem kecil sih wajar namanya menyatukan dua individu yang berbeda. Namun jangan sampai terjadi gesekan konflik cukup besar karena masalah prinsip.
Berbicara mengenai rumah tangga, maka tidak jauh-jauh dari pembahasan finansial di dalamnya. Mau tidak mau kita harus mengakui, pembahasan finansial antara suami istri itu perlu dan penting adanya.
Saling terbuka menurutku itu wajar sekali, apalagi di zaman now dimana terkadang suami dan istri itu punya penghasilan masing-masing.
Sewajarnya seorang suami memberi nafkah kepada istri maupun anak-anak dalam sebuah rumah tangga. Namun tidak semua rumah tangga itu memiliki suami ideal. Ada suami yang meskipun sudah bekerja maksimal namun belum mencukupi biaya operasional rumah tangga, sehingga harus ditopang oleh istri yang bekerja.
Tidak perlu malu apabila kamu sebagai suami belum maksimal dapat memenuhi kebutuhan keluarga. Yang terpenting kamu tetap bertanggung jawab sebagai layaknya seorang suami. Bahkan ada suami yang sudah mencari penghasilan sampingan pun tetap tidak mampu mencukupi kebutuhan rumah tangga, saking mahalnya biaya hidup.
Pembahasan finansial dalam rumah tangga ini sangat renyah untuk dibahas. Seolah tidak ada matinya pembhasan ini, maka kamu pun harus memahami apakah uang istri dan suami itu perlu dicampur atau dipisah.
Sebenarnya sah-sah saja jika uang istri dan suami masing-masing terpisah, asalnya benar-benar tepat dalam peruntukannya. Misal suami tidak ingin gajinya diketahui oleh istri ya tidak masalah juga, asalkan seluruh kebutuhan rumah tangga dia penuhi tanpa terkecuali.
Istri memang tidak berkewajiban mencari nafkah namun jika diperlukan maka hal tersebut sunnah adanya alias diperbolehkan. Tentu saja dengan catatan istri harus mengetahui batasan dalam bekerja, karena biar bagaimanapun tanggung jawab ada di pundak suami.
Menurut saya pribadi sebaiknya uang istri dan suami dicampur manakala keduanya sedang berjuang dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga berdua, di saat suami belum mampu untuk memenuhi seluruh biaya operasional rumah. Tentu saja harus dengan persetujuan sang istri apabila uang istri mau dicampur dengan uang suami.
Uang di sini tidak hanya gaji ya gaes. Uang bisa termasuk pendapatan sampingan yang mungkin diperoleh oleh istri dan suami atau pemberian pihak ketiga misalnya.
Tentu suami yang bertanggung jawab tidak akan berlama-lama membiarkan istrinya ikut menanggung beban rumah tangga. Sebisa mungkin suami berusaha memenuhi seluruh kebutuhan rumah tangga tanpa perlu sang istri ikut campur.
Lalu uang istri dan suami bisa dipisah manakala istri sudah mempercayakan 100% pengeluaran bulanan kepada suami tanpa ikut campur sepeser pun. Sesekali bolehlah istri mengeluarkan uang dari dompet pribadinya untuk kebutuhan tersier keluarga, misalnya saja membeli camilan untuk anak-anak dan suami.
Apabila uang istri dan suami dicampur maka sebaiknya keduanya harus saling terbuka mengenai pendapatan mereka berdua. Namanya juga uang dicampur maka setidaknya harus ada transpransi darimana uang tersebut diperoleh.
Penutup
Masalah uang bisa jadi hal yang sensitif namun juga tidak. Apabila suami istri saling legowo tentang peruntukan uang mereka, maka kecil kemungkinan konflik dalam rumah tangga terjadi.
Intinya adalah, suami tetap tidak boleh lepas tanggung jawab kepada keluarganya apabila dirasa gaji yang didapatnya terbilang minim.
Aku yakin jika suami terbuka dan terus terang dengan kondisi finansialnya, maka istri juga akan memberi dukungan kok.

Posting Komentar untuk "Uang Istri dan Suami Sebaiknya Dicampur atau Dipisah?"