Angka Perceraian di Indonesia Meningkat, Salah Siapa?

 

Dari hari ke hari mungkin tidak ada yang pernah memperhatikan jika angka perceraian di negara kita makin lama makin meningkat. 

Dari data Badan Pusat Statistik, dapat kita lihat tingkat perceraian di Indonesia makin meningkat. Tahun 2025 saja dilaporkan sudah terdapat 438.168 kasus perceraian yang diajukan ke Pengadilan Agama. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2024 yag berjumlah 399.921 kasus perceraian. 

Entah siapa yang salah, pastinya sekarang aku tuh merasa kalau KUA alias Kantor Urusan Agama mulai gencar mempromosikan pernikahan di akun media sosial mereka. Hal ini tentu saja mengundang senyum karena konon ada jokes dimana sedang ada persaingan sengit antara KUA dan Pengadilan Agama.

Pengadilan Agama konon kata netizen tidak perlu promosi karena makin hari makin banyak yang datang ke sana, sementara Kantor Urusan Agama makin lama makin sepi pengunjung alias masyarakat seperti enggan untuk menikah.

Siapa sih yang tidak ingin rumah tangganya awet sampai maut memisahkan. Kalau bisa seumur hidup kita menikah dengan orang yang sama. Namun terkadang dalam perjalanan pernikahan selalu ada saja rintangan yang terjadi dimana menjadi badai pernikahan yang harus dilakui oleh pasangan suami istri.

Ada pasutri yang bertahan menghadapi badai pernikahan tersebut hingga berhasil dilalui, namun ada juga yang tidak tahan sehingga keduanya memilih untuk berpisah. Perceraian pun terkadang berujung tidak baik-baik saja.

Kalau ditanya siapa yang salah, maka sulit juga menjawab karena dalam pernikahan baik suami dan istri juga punya peran masing-masing yang menyebabkan kenapa pernikahan itu sampai kanda.

Daripada mencari siapa yang salah, ada baiknya jika antara suami dan istri bisa saling berintrospeksi untuk bisa menyelamatkan biduk rumah tangga mereka. Sebab jika terus mencari kesalahan diantara keduanya, maka waktu hanya akan terbuang percuma saja. 

Angka perceraian yang cukup tinggi di negara kita tentu membuat sebagian orang berpikir dua kali untuk menikah dan membina rumah tangga. Ada yang merasa takut karena tidak tahu ke depan akan seperti apa kehidupan rumah tangganya. Sementara yang sudah pernah menikah dan bercerai, merasa trauma sehingga memutuskan menjanda/menduda saja seumur hidup karena takut gagal untuk yang kesekian kali.

Kita hidup di zaman yang memang serba kompleks ya... informasi beredar cukup luas sehingga berita-berita yang seharusnya tidak perlu didengar menjadi bisa didengar dan menimbulkan ketakutan yang tak beralasan.

Pemyebab perceraian pun saat ini bermacam-macam, sebut saja:
  1. Kekerasan dalam rumah tangga
  2. Suami tidak menafkahi anak dan istri serta lalai dalam tanggung jawab
  3. Ikut campur keluarg suami/istri dalam kehidupan rumah tangga pasutri
  4. Adanya isu perselingkuhan yang dilakukan oleh pihak suami maupun istri
  5. Perselisihan yang terjadi antara suami istri
  6. dan masih banyak lagi penyebab lainnya
Zaman sekarang ini kita banyak membandingkan kehidupan pernikahan sendiri dengan pernikahan orang lain, sehingga bisa jadi sebenarnya perceraian tidak perlu terjadi namun karena kurang rasa syukur sehingga harus terjadi.

Selain itu juga, adanya akses media sosial yang terlalu berlebihan membuat peluang perselingkuhan makin banyak celah. Meskipun kita tahu bahwa perselingkuhan tidak akan terjadi apabila tidak ada celah kesempatan yang bisa diambil. Ibaratnya mau secantik dan seganteng apa orang di luar sana, apabila kita komitmen terhadap satu orang pasangan maka perselingkuhan bisa dihindari.

Lalu tuntutan gaya hidup juga mewarnai kehidupan berumah tangga. Suami istri yang nampak ingin tampil hedon sehingga segala cara dihalalkan. Bingung dengan pengeluaran yang lebih besar dari pendapatan, sehingga suami mencari jalan pintas dengan bermain judi online misalnya.

Penutup

Perceraian mungkin bagian dari takdir Tuhan yang telah digariskan kepada manusia. Akan tetapi kita sebagai manusia bisa mencegah hal tersebut terjadi. Penting untuk diri kita sendiri resapi adalah, apakah kita mau menjadi bagian dari pasangan suami istri yang bercerai itu, atau kita berusaha mempertahankan biduk rumah tangga dengan sekuat tenaga.

Apabila ada masalah, memang seharusnya diselesaikan dengan kepala dingin. Jangan lupa lakukan introspeksi sehingga kita bisa mengubah bagian dari diri sendiri yang mungkin kurang di hadapan pasangan.


Referensi:

https://www.bps.go.id/id/statistics-table/3/VkhwVUszTXJPVmQ2ZFRKamNIZG9RMVo2VEdsbVVUMDkjMw==/nikah-dan-cerai-menurut-provinsi.html


Posting Komentar untuk "Angka Perceraian di Indonesia Meningkat, Salah Siapa?"