![]() |
| Credit Photo: Freepik |
Usia makin tidak muda lagi, dan kadang saya berpikir jika nanti mati bagaimana pertanggungjawaban atas barang-barang yang dimiliki di akhirat kelak? Bukan sok religius tapi memang benar kan, jika apa yang kita miliki semasa di dunia kelak akan dipertanggungjawabkan.
Dulu ketika masih usia 30an, rasanya belum afdhol kalau belum punya tas kerja lebih dari satu biji, sekarang malah pakai tas yang itu-itu saja di setiap momen.
Pernah ketika menghadiri event blogger, saya tak sengaja baru sadar setelah menemukan foto di galeri HP kalau ternyata baju yang saya pakai sama untuk dua kegiatan. Malu? Selama baju tersebut masih sopan dan pantas, Insha Allah tidak akan malu. Namun suka gak nyadar saja kalau ternyata saya suka memakai baju yang sama di beberapa acara atau kegiatan.
Di usia yang tidak muda lagi, bagi saya hidup sudah cukup melelahkan untuk kembali menumpuk barang-barang baru. Saya pernah memberi label sebuah barang sebagai benda kenangan setelah beberapa tahun harus merelakan untuk diberikan kepada orang lain.
Menjalankan hidup minimalis terkadang berat bagi sebagian orang, termasuk saya. Apalagi jika barang-barang di rumah sudah telanjur menetap untuk sekian lama. Ketika sedang timbul rasa rajin lalu ingin beberes rumah, saya banyak sekali menemukan barang yang sebenarnya tidak terpakai lagi namun masih berada di dalam rumah.
Lalu bagaimana cara saya menerapkan hidup minimalis, berikut yang bisa saya bagi kepada kalian semua:
1. Pilah Barang yang Masih Bagus, Berikan Kepada yang Membutuhkan
Dulu, mungkin kita merasa bangga memiliki lemari yang penuh atau tumpukan koleksi barang serta aksesoris. Namun, coba tanyakan ini pada diri sendiri: "Apakah barang ini akan memudahkan atau menyulitkan saya nanti?" Apalagi usia saya akan bertambah tua dan tidak mungkin saya bisa merapikan barang-barang tersebut.
Jangan biarkan barangmu menumpuk hingga menjadi beban bagi keluarga yang ditinggalkan, mulailah memilahnya sekarang. Apabila barang-barang tersebut masih bisa berfungsi dengan baik maka kamu bisa memberikan kepada orang lain yang bisa jadi lebih membutuhkan. Jadi pahala sedekahmu bukan!
2. Jangan Beli yang Baru Jika yang Lama Masih Bisa Dipakai
Jadi beberapa bulan lalu tas kesayangan saya rusak. Jujur saja saya merasakan kehilangan karena tas tersebut bisa dibilang multifungsi. Tak sengaja saya scroll TikTok dan menemukan tas serupa di TikTok Shop. Hampir saja saya ingin checkout tapi tiba-tiba hati kecil saya melarang.
Tiba-tiba saya teringat masih punya tas lain yang diberikan oleh teman kerja sebagai hadiah perpisahan ketika hendak resign. Akhirnya saya buka lemari dan mengeluarkan tas yang sudah berusia 2 tahun tersebut. Tas yang memang belum pernah dipakai itu ternyata bisa kok menggantikan yang lama. Meskipun berbeda bentuk, tapi tak apalah.
Bagi saya saat ini harus menghemat juga di tengah kondisi ekonomi yang serba tak pasti. Daripada beli tas baru, mending uangnya ditabung saja sebagai dana darurat, begitu pikir saya.
3. Kurangi Barang, Tambah Fungsi
Kalau bisa sih singkirkan barang dan pernak-pernik yang berisiko membuat tersandung. Buat rumah menjadi lebih lapang dengan barang yang sedikit.
Utamakan kualitas daripada kuantitas. Ibaratnya lebih baik punya satu set pisau dapur yang tajam daripada sepuluh pisau tumpul yang memenuhi laci.
Beberapa barang di rumah yang biasa saya buang atau berikan kepada pemulung misalnya saja:
- Thinwall
- Tas spunbond
- Baju-baju lama yang sudah tidak muat dipakai
- Tas, dompet, peralatan masak
Beberapa barang di atas saya sisihkan sebagian untuk berjaga-jaga apabila diperlukan di kemudian hari. Namun menyimpan dalam jumlah puluhan juga kurang bijak menurut saya sehingga ada baiknya diberikan saja kepada orang lain.
Penutup
Hidup minimalis merupakan sebuah proses yang membutuhkan waktu. Kita tidak bisa melakukannya secara instan. Namun ketika kita sudah menerapkan hidup minimalis dalam kehidupan sehari-hari, entah kenapa bagi saya pribadi ada rasa lega.
Semoga bermanfaat.

Posting Komentar untuk "Begini Cara Saya Menerapkan Hidup Minimalis"